dari kejauhan terlihat seorang bapak berjalan menuju ke tempat kami berkumpul, setelah dekat aku baru tahu, beliau pak sukri babaknya ghofar teman kuliah aku di IAIN Bandung, salamu alaikum beliau menyapa kami....
waalaikum salam jawab kami.....
Eh pak Sukri, dari mana pak ? kok tumben sore-sore jalan kemari, sengaja bapak kesini mau memberi tahu De Rizal, bahwa sejak kemarin sudah dibuka pendaptaran penerimaan Calon Pegawai Negeri sipil di Lingkungan Pengadilan Tinggi Agama Bandung, barang kali saja De Rizal ada minat mendaptar, biar sama-sama dengan ghofar berangkat besok. Aku gembira sekali atas berita yang dibawa pak Sukri, Iya pak..... saya mau ikut testing,.. semoga saja ada rezekinya buat saya dan ghofar, amin kata pak sukri.. kalau begitu bapak pamit dulu, oh iya pak biar nanti saya ke rumah menghubungi Ghofar.
Sebelum adzan subuh berkumandang aku sudah duduk diatas sajadah, memanjatkan banyak harapan akan sebuah masa depan yang lebih gemilang, aku terpekur ingat akan siapa diriku, terlahir dari keluarga sederhana, bapak dan ibuku jualan kue di pasar dengan penghasilan yang tak seberapa.
Setelah sholat subuh aku kembali ke rumah bergegas hendak pergi ke Bandung, semua persyaratan administrasi ku persiapkan dengan baik, jangan sampai di Bandung sana ada yang tertinggal. dari mulai ijazah, transkif nilai, surat Keterangan Berkelakuan Baik dari kepolisian semuanya aku persiapkan.
Tepat jam 6.00 tepat aku keluar dari rumah, dengan tidak lupa meminta doa restu dari kedua orang tua, Tak diminta pun nak, ibu dan bapak slalu mendoakanmu semoga apa yang kau cita-citakan berhasil, hati-hati kamu di jalan, simpan uang mu baik-baik.
Sebelum berangkat aku mampir dulu ke rumah ghofar, tak perlu menunggu lama rupanya dia telah menungguku, tanpa basa-basi kami langsung menuju jalan raya. Kita mau naik mobil apa nih, kata ghofar nanya pada ku, naik bis atau elf ? ah ..... kita naek elf aja biar murah dan biasanya elf harganya bisa ditawar, kataku.
Tidak menunggu lama kami sudah duduk di atas elf jurusan Bandung, kurang lebih jam setengah sepuluh kami sampai di kantor Pengadilan Tinggi Bandung, eh ternyata sudah banyak orang, mereka lagi serius mengisi folmulir pendaftaran, aku dan ghofar melihat kiri kanan, terlihat sebuah ' TEMPAT PENGAMBILAN FORMULIR : aku menuju kesana seorang bapak berkaca mata tanpa berkata-kata menyodorkan dua lembar kertas bersi data-data yang harus disi. Aku langsung mengambilnya sambil tak lupa ku ucapkan terima kasih, si bapak hanya mengagukan kepala, mungkin dia cape kalau harus menjawab ucapan terima kasih pendaftar yang banyak.
Aku dan ghafar tidak mengalami kesulitan dalam mengisi folmulir pendaftaran, karena segala sesuatunya telah dipersiapkan, sebelum dzuhur semuanya telah beres. Far kita makan dulu yu, ajakku pada ghafar..... ayo... tapi jangan ditempat yang mahal..... kita kan masih pengangguran, nanti kalau kita sudah diterima jadi pegawai baru kita makan yang enak, kata ghafar sambil tersenyum kecut..... ya aku juga ngerti kok.... kita makan di warteg aja, biar murah ................. selesai makan dilanjutkan dengan sholat dzuhur, kita jama aja dengan ashar yah ajakku pada ghofar..... yah terserah ente aja....
Jam dua pas kami sudah berada di elf lagi, aku dan ghofar terdiam masing-masing terlena dengan lamunan masing-masing, aku bayangkan bagaimana rasanya bila aku diterima jadi pegawai negeri berseragam, pasti orang tuaku merasa mangga bapakku tentu akan cerita sama mang juned di pematang sawah, sama mang dohir di pasar, maklum ayahku selalu cerita dengan mereka kalau lagi susah cari uang untuk bayar SPPku. bagaimana susahnya bapakku cari uang buat aku sekolah, pinjam sana pinjam sini, apalagi yang sekolah bukan aku sendiri. Aku menarik nafas kubayangkan badan bapakku yang kurus kering karena cape banting tulang mencari uang, begitu juga dengan ibuku, tak terasa air mataku meleleh membasahi pipiku, cepat-cepat ku usap dengan tangan malu jangan sampai penumpang lain melihatku, ku bisikan dalam hati sebuah doa, ya Allah ampunillah diriku dan orang tuaku yang telah mengurus diri ini tanpa pamrih, sayangi mereka seperti halnya mereka menyayangi diriku semasa kecil. Aku tengok ghofar yang tengah asik memandangi pemandangan yang dilewati oleh mobil, tangannya menahan dagunya aku tak tahu apa yang lagi dipikirkannya, pasti tak jauh dari yang aku pikirkan. Ciamis....Ciamis suara kondektur mengingatkan penumpang yang akan turun di Ciamis...... aku mencolek paha ghofar.... eh siap-siap kita turun.... tak terasa perjalanan Bandung Ciamis telah sampai....... nanti lagi deh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar