Senin, 11 April 2011

Bismillahirahmanirahiem, alhamdulillah ya Allah hari ini Selasa tanggal 12 April 2011 kembali engkau hidupkan aku, puji dan doa selalu hamba panjatkan dan lantunkan untukmu, ku harap keyakinan padamu semakin tebal, sehingga kedamian dalam hidup ini semakin terasa guna menangkal persaingan hidup yang terkadang menggelapkan mata, seperti rasa iri dan dengki akan nikmat-nikmat yang orang lain dapatkan;

Umur ku kini menginjak usia 43 tahun, umur segitu kata para ahli sebagai masa memulainya hidup life beginning forty. Perjalan hidupku terbilang getir, aku sejak kecil sering sakit-sakitan, bahkan sampai sekarang pun, yang terkadang emosiku labil dan tidak setabil, aku menjadi tertutup, bukan tidak mau bergaul, tetap aku malu bila orang lain mengetahui aku sakit, aku tak ingin orang lain mengetahui aku sakit, padahal sebenarnya aku ini senang ngobrol bercengkrama dan bercanda dengan teman, tapi aku takut ketahuan oleh teman-temanku kalau aku sakit, maklum orang sakit itu mudah diketahui dari raut muka.

Aku tidak bisa melanjutkan tulisan ini.... mau pipis


Rabu, 23 Maret 2011

YA ALLAH

Ya Allah walaupun aku marah kepadamu, apa kuasaku, walaupun aku tidak mengabdi padamu, apa pedulimu, sama sekali engkau tidak perlu dengan semua yang aku perbuat, kau tak butuh ibadahku, semua yang aku perbuat, ternyata untuk kesenangan diriku, aku berdoa supaya engkau kabulkan keinginanku, engkau takbir, ruku sujud hanya supaya baik bagi diriku, engkau berdoa supaya sembuh, itupun untuk aku biar bisa beraktifitas, mana buat Allah;

Sekarang aku mulai memasuki jalan terjal yang sesungguhnya, jalan tanpa kemunafikan, jalan tanpa basa basi, jalan tanpa kemanjaan, jalan tanggung jawab, jalan sesungguhnya hidup, jalan keyakinan;

Kelemahan diri mulai terkuak, tak ada lagi pemaksaan kehendak, laksana seekor kucing tercebak pada dingding-dingding tinggi menjulang, jalan terseok ditengah padang sahara yang gersang, tangan menjurai ke atas mencari tangan tuhan menyentuhnya;

Bolehkah kita lelah berdoa ?. makna hidup mulai terasa, kegetiran diri mulai terasa, pahitnya makna hidup mulai terasa;

Kemerdekaan berhadapan dengan tanggung jawab pribadi, tak ada yang bisa kita mintai pertolongan, isteri yang tercinta, dan sayang pada kita, hanya mampu menatap penuh iba, tapi tak ada kuasa untuk menolong.

Kau.. harus mempertanggung jawabkan semua yang kau perbuat.

Amin............

Janganlah kau paksa Allah untuk mengabulkan doa-doamu, tak ada sedikitpun hakmu untuk memaksa Allah. Duduklah disudut terserah Allah hendak berbuat apa padamu, jangalah kau merengek-rengek seperti seorang anak minta sesuatu pada ibumu, ibumu bisa kau paksa dengan tangisan atau bujukanmu, tapi tidak dengan Dia;

hmm kalau begitu Allah kejam, siapa yang bilang itu, kamu yang bilang. Coba kau tarik nafasmu, siapa yang memasukan hawa ke dadamu, siapa yang mengerakan tanganmu menulis tulisan ini,kau tengok apakah kau masih bisa duduk, bisa melihat, bisa merasa, kau lihat anak-anakmu dengan tenang pergi kesekolah tanpa beban harus mencari biaya sekolah, karena anak kita merasa yakin bapaknya bisa memberi biaya, siapakah yang memberi biaya, coba kau bandingkan banyak mana, kesenangan yang kau rasa hari ini,dengan kepahitan hidupmu;

Isterimu di rumah masih bisa melihat lemari dengan persedian makanan yang cukup, ketika hujan turun dia masih bisa berteduh, walaupun bukan di istana. oh oh oh.. maaf aku Allah telah berburuk sangka kepadamu;

ya rab amfuni atas ketidaktahuan dan ketidak sabaranku........

Rabu, 20 Oktober 2010

Syukur, Sabar dan Ridho

SYUKUR

Saudaraku, betapa banyak karunia Allah yang kita terima, tapi kebanyakan dari kita selalu melupakannya, yang kita ingat adalah kesusahan, kesengsaraan atau kesialan dalam hidup ini. Banyak kita mencari kebahgian di luar sana, melihat kekayaan dan harta orang lain, membanding-bandingkan kita dengan orang lain, Selalu melihat orang lain lebih bahagia dari pada kita. Seakan kita akan bahagia bila seperti si fulan yang punya mobil mewah, rumah megah, isteri canti, anak-anak yang cerdas dengan finasial yang turun deras.

Saudaraku, bila lah kita merenung sejenak, sebetulnya kebahgian itu ada pada diri kita, bila kita mampu bersyukur terhadap karunia dan pemberian Allah, kita harus belajar menerima dengan suka cita seberapa besar pun pemberian Allah. Karena bukan besar dan kecilnya yang kita dapatkan, tetapi cara pandang kita terhadap apa yang kita dapatkan. Salah satu kiat untuk selalu merasa bahagia dengan apa yang kita peroleh, adalah dengan menyadari bahwa apa yang kita terima adalah pemberian dari dzat yang maha besar. Sekecil apapun yang kita terima itu tidak akan dianggap kecil oleh kita, karena yang kita lihat adalah si pemberi yang maha besar.

Dalam kehidupan kita sehari-hari kita menemukan seseorang yang memangpangkan poto dirinya yang berdampingan dengan orang besar, seperti dengan persiden atau tokoh lainnya yang dianggap besar oleh dia, orang tersebut menyadari, berapa sih harga sebuah kertas berisi gambar orang, bahkan kita pun sering menemukan poto-poto orang yang tidak kita kenal terserak di tong sampah, kita biarkan begitu saja. Kenapa orang tadi menyimpan baik-baik Poto dia dengan orang besar, karena dia sadar, bukan kertyasnya yang besar, tapi ada orang besar dan Terhormat dalam poto tersebut;

Seorang kekasih yang menerima sepucuk surat dari dambaan hatinya, akan menyimpan surat tersebut dengan baik, dia tidak melihat nilai sebuah amplop dan kertasnya, tapi dia melihat siapa yang mengirimnya. Nah bila kita hari ini mendapatkan rejeki Rp.10.000,- (Sepuluh ribu rupiah), janganlah anda melihat nilai sepuluh ribu rupiah itu semata, barang kali anda akan berpikir cukup apa uang sepuluh ribu sekarang, tapi sadarlah tak ada yang mengantarkan rejjeki sepuluh ribu itu kehadapan anda kecuali pemberi rijki itu sendiri, walaupun jalannya mungkn melalui usaha anda, kemudian anda diberi upah.

Nah... bila hal ini kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari, maka berapapun yang didapatkan selalu akan bersyukur, selalu akan merawat rejeki itu, yaitu kita gunakan kepada hal-hal yang Allah ridho, kita tidak akan melihat pada kebun dan sawah orang, tapi kita akan merasakan begitu sayangnya Allah kepada kita yang telah memberi rizki. itulah salah satu bentuk syukur kita

SABAR

Saudaraku, tak semua yang kita dambakan atau yang diharapkan akan tercapai, keinginan manusia pada umumnya, ingin hidup sehat, banyak rejeki, pekerjaan lancar, anak dan isteri sehat dan cerdas, hidup nyaman. tapi dalam kenyataan sehari-hari tidaklah semua yang kita harapak tersebut tercapai, kalaupun tercapai pasti tidak semuanya. Harta dan pekerjaan ada, tapi anak sakit, anak-anak sehat susah mencari rejeki, dan seterusnya dan seterusnya.

Tapi ingat sabar bukanlah berdiam diri tanpa usaha, sabar adalah aktif dan progresif, memaksimalkan potensi diri untuk mencapai apa yang kita harapkan. Bila kita lagi sakit, harus sabar, tapi bukan berarti berdiam diri menungu kesembuhan itu datang, kita harus berusaha berdoa dan berobat, minta tolong kepada Allah diberikan jalan keluar dengan berkat karunianya.

Minggu, 23 Mei 2010

menerima apa yang diberikan Allah

Saudaraku, begitu banyak tantangan dalam hidup ini, setiap hari kita selalu didera dengan berbagai masalah, selama manusia hidup pasti tak akan lepas dari masalah, hilang satu datang seribu, sekuat tenaga kita menghindari masalah, malah masalah semakin mendekat dengan kita, untuk itu sebetulnya maslah itu bukan untuk kita hindari, tapi untuk kita hadapi dan kita selesaikan.
Ada yang didera masalah kesehatan, telah banyak tabib dan dokter yang di datangi, tapi sembuh tak kunjung datang, betapa nikmat dalam pandangan si sakit, melihat orang-orang yang sehat, bergerak, bekerja dengan gesit, setiap saat merintih merasakan rasa sakit. Ada mereka yang mencoba lari dari masalah sakit, tapi apa dikata, banyak yang mengakhiri hidupnya.

Selasa, 28 Oktober 2008

Buat Ayah Dan Bunda

Aku hanya tahu Ibu Bapakku tak tamat sekolah Dasar
Pekerjaannya berjualan makanan ringan di Pasar Ciamis
Setiap selesai subuh mereka bersiap pergi ke Pasar
Nanti pulangnya selepas asahar.....
Aku tak pernah mendengar keluhan atas pekerjaannya....
bahkan Ibuku berlibur tidak jualan hanya pada hari raya saja atau bila sakit
Sekarang mereka telah tiada
Bapak dan Ibuku sekarang sudah tiada
Ini cerita ketika bapakku meninggal, waktu itu aku tugas di Irian jaya, ada telepon dari kampung Bapakku sakit, aku tanya apa aku harus pulang kakakku yang menelepon waktu itu, bilang terserah kamu

Senin, 20 Oktober 2008

PERJALANAN HIDUPKU

Aku sedang duduk-duduk di depan rumah tetangga, biasa sore-sore bagi seorang muda penganggur seperti aku, tidak hari yang diperbincangkan dengan sesama teman senasib selain sulitnya mencari pekerjaan sekelas pemilik ijazah sarjana, aku juga tidak menamfik ada pekerjaan seperti mengajar anak-anak di madrasah, tapi apa yang diharapkan dari mengajar di madrasah yang upahnya lillah, pada saat pikiran mengejar finansial terkadang pekerjaan yang mulia seperti itu dianggap tidak memberikan manfaat, padahal pekerjaan itu mungkin yang lebih berkahng .
dari kejauhan terlihat seorang bapak berjalan menuju ke tempat kami berkumpul, setelah dekat aku baru tahu, beliau pak sukri babaknya ghofar teman kuliah aku di IAIN Bandung, salamu alaikum beliau menyapa kami....
waalaikum salam jawab kami.....
Eh pak Sukri, dari mana pak ? kok tumben sore-sore jalan kemari, sengaja bapak kesini mau memberi tahu De Rizal, bahwa sejak kemarin sudah dibuka pendaptaran penerimaan Calon Pegawai Negeri sipil di Lingkungan Pengadilan Tinggi Agama Bandung, barang kali saja De Rizal ada minat mendaptar, biar sama-sama dengan ghofar berangkat besok. Aku gembira sekali atas berita yang dibawa pak Sukri, Iya pak..... saya mau ikut testing,.. semoga saja ada rezekinya buat saya dan ghofar, amin kata pak sukri.. kalau begitu bapak pamit dulu, oh iya pak biar nanti saya ke rumah menghubungi Ghofar.
Sebelum adzan subuh berkumandang aku sudah duduk diatas sajadah, memanjatkan banyak harapan akan sebuah masa depan yang lebih gemilang, aku terpekur ingat akan siapa diriku, terlahir dari keluarga sederhana, bapak dan ibuku jualan kue di pasar dengan penghasilan yang tak seberapa.
Setelah sholat subuh aku kembali ke rumah bergegas hendak pergi ke Bandung, semua persyaratan administrasi ku persiapkan dengan baik, jangan sampai di Bandung sana ada yang tertinggal. dari mulai ijazah, transkif nilai, surat Keterangan Berkelakuan Baik dari kepolisian semuanya aku persiapkan.
Tepat jam 6.00 tepat aku keluar dari rumah, dengan tidak lupa meminta doa restu dari kedua orang tua, Tak diminta pun nak, ibu dan bapak slalu mendoakanmu semoga apa yang kau cita-citakan berhasil, hati-hati kamu di jalan, simpan uang mu baik-baik.
Sebelum berangkat aku mampir dulu ke rumah ghofar, tak perlu menunggu lama rupanya dia telah menungguku, tanpa basa-basi kami langsung menuju jalan raya. Kita mau naik mobil apa nih, kata ghofar nanya pada ku, naik bis atau elf ? ah ..... kita naek elf aja biar murah dan biasanya elf harganya bisa ditawar, kataku.
Tidak menunggu lama kami sudah duduk di atas elf jurusan Bandung, kurang lebih jam setengah sepuluh kami sampai di kantor Pengadilan Tinggi Bandung, eh ternyata sudah banyak orang, mereka lagi serius mengisi folmulir pendaftaran, aku dan ghofar melihat kiri kanan, terlihat sebuah ' TEMPAT PENGAMBILAN FORMULIR : aku menuju kesana seorang bapak berkaca mata tanpa berkata-kata menyodorkan dua lembar kertas bersi data-data yang harus disi. Aku langsung mengambilnya sambil tak lupa ku ucapkan terima kasih, si bapak hanya mengagukan kepala, mungkin dia cape kalau harus menjawab ucapan terima kasih pendaftar yang banyak.

Aku dan ghafar tidak mengalami kesulitan dalam mengisi folmulir pendaftaran, karena segala sesuatunya telah dipersiapkan, sebelum dzuhur semuanya telah beres. Far kita makan dulu yu, ajakku pada ghafar..... ayo... tapi jangan ditempat yang mahal..... kita kan masih pengangguran, nanti kalau kita sudah diterima jadi pegawai baru kita makan yang enak, kata ghafar sambil tersenyum kecut..... ya aku juga ngerti kok.... kita makan di warteg aja, biar murah ................. selesai makan dilanjutkan dengan sholat dzuhur, kita jama aja dengan ashar yah ajakku pada ghofar..... yah terserah ente aja....
Jam dua pas kami sudah berada di elf lagi, aku dan ghofar terdiam masing-masing terlena dengan lamunan masing-masing, aku bayangkan bagaimana rasanya bila aku diterima jadi pegawai negeri berseragam, pasti orang tuaku merasa mangga bapakku tentu akan cerita sama mang juned di pematang sawah, sama mang dohir di pasar, maklum ayahku selalu cerita dengan mereka kalau lagi susah cari uang untuk bayar SPPku. bagaimana susahnya bapakku cari uang buat aku sekolah, pinjam sana pinjam sini, apalagi yang sekolah bukan aku sendiri. Aku menarik nafas kubayangkan badan bapakku yang kurus kering karena cape banting tulang mencari uang, begitu juga dengan ibuku, tak terasa air mataku meleleh membasahi pipiku, cepat-cepat ku usap dengan tangan malu jangan sampai penumpang lain melihatku, ku bisikan dalam hati sebuah doa, ya Allah ampunillah diriku dan orang tuaku yang telah mengurus diri ini tanpa pamrih, sayangi mereka seperti halnya mereka menyayangi diriku semasa kecil. Aku tengok ghofar yang tengah asik memandangi pemandangan yang dilewati oleh mobil, tangannya menahan dagunya aku tak tahu apa yang lagi dipikirkannya, pasti tak jauh dari yang aku pikirkan. Ciamis....Ciamis suara kondektur mengingatkan penumpang yang akan turun di Ciamis...... aku mencolek paha ghofar.... eh siap-siap kita turun.... tak terasa perjalanan Bandung Ciamis telah sampai....... nanti lagi deh

PUISI JIWA

BERGETAR
MEMERAH
MEMBANTAH LEBIH KASAR
TERUSIK TERHINA AKU BISA
TAK SADAR
ILMU DAN TEORI DILAHAP
SULIT...... SULIT AKU BANGKIT
CURIGA DENGKI OH MANA SUJUDMU
MANA BACAAN QUR'ANMU
TOLONG LIHAT DISEKELILINGKU ADA APA
AH ...... JANGAN TERLALU KAU PIKIRKAN
ITU PEMALU.... ATAU PENDIDIKAN DASAR
PANTASKAH TABIAT MENURUN YANG DISALAHKAN
JANGAN LEBIH BAIK MEREKA KAU DOAKAN
MEREKA BUTUH ITU
ISTERIKU
AKU KASIAN
DIJADIKAN TEMPAT MENERIMA KETOLOLANKU
SETIA DAN JUJUR SERTA KHAWATIR YANG IA TERIMA
OH ANAK-ANAKKU
MATA - MATA PENUH KETAKUTAN
IGFIRI AKU PASTI BERUBAH

GARUT, 20 OKTOBER 2008