Minggu, 31 Agustus 2008

marhaban ya ramadhan

Ramadhan kembali datang menghampiri kita, sebuah efisode baru untuk kita mencoba kembali merakit jati diri insani, membuat jarak pembeda dengan makhluk lainnya. Manusia secara jasad badag (besar), atau secara jasmani tidak berbeda dengan makhluk lainnya. Proses metabolisma secara kimiawi sama dengan hewan. Manusia memiliki jantung, paru-paru, ginjal dan organ tubuh lainnya, hewan juga punya, manusia makan hewan juga makan. Maka ahli mantik menyebut manusia sebagai : al-Insanu hayawanun nathiq. manusia adalah hewan yang berpikir.

Bila hewan sirkulasi hidupnya hanya berputar dari makan ke makan, dan berkembang biak, tapi manusia tidak begitu adanya. manusia butuh selain makan untuk menyuplai nutrisi kemanusiaannya. karena dalam diri manusia ada rasa, cinta, benci,sipati, empati, harga diri, rasa bahagia, cemas sedih dan derita. Puasa adalah sebuah wasilah, atau instrument tersalurnya nutrisi insani penyuap dahaga ruhani , sehingga ruhaninya menjadi sehat. rasa positifnya akan sehat menghiasi prilaku kesehariannya.

Pernahkah anda melihat seekor ayam, yang mengejar anaknya yang mau mengambil makanan yang dihadapinya, pada hal dulu anaknya itu dia eram beberapa hari, sampai dia tega menahan rasa lapar, sampai beberapa masa setelah anaknya menetas dia bimbing, dia lindungi dari bahaya yang menyerangnya, tapi ketika sudah besar rasa itu hilang, ia kejar anaknya karena dianggap akan mengurangi jatah makan dia, Atau anda melihat ayam jantan yang mengejar induknya sendiri untuk dikawini, itulah ayam yang tidak punya rasa.

Puasa hadir untuk menciptakan manusia menjadi beda, menjadi punya rasa. Beda dengan hewan rasa sebagai manusia. dalam rasa  akan timbul beberapa hal.

Pertama, rasa sebagai manusia yang dicipta oleh yang maha kuasa, rasa ini melahirkan ketaatan dan ketundukan total. orang puasa tidak ada yang menyuruh selain yang maha kuasa, orang puasa terlepas dari tendensi manusiawi, puasa sepi dari riya. Bila di depan anda ada makanan, makanan itu halal, punya anda. tapi kenapa anda tak mau memakannya. Bila anda makan tidak akan dipidana, apalagi tidak ada orang yang melihatnya. hali ini dilakukan karena ada rasa yang mengawasi anda,   dan anda puasa bukan karena siapa-siapa tapi karena dia (Allah)

Kedua, rasa kemanusiaan. Bila anda sekarang  sedang berpuasa, anda rasakan lapar dan dahaga, sadarkah anda bahwa ada saudara kita, yang sepanjang masa lapar karena hidup nestapa. Tidak bisa memenuhi kebutuhan makanannya. rasa ini diharapkan menjadi rasa yang menyebar, rasa yang turun menjadi karya untuk menolong sesama.

Ketiga, rasa berdua dengan yang maha kuasa. Puasa adalah olah ruhani, dimana kita menyedikitkan suplai material pada tubuh kita melalui asupan makanan, saat nilai-nilai material menurun nafsu pun menurun, tapi sisi lain ruhani kita meningkat, rasa butuh kepadanya semaikin bagus, dia akan berusaha meninggalkan dosa, dan makbulnya sebuah doa karena sterilnya dosa.

berlanjut